Sejalan dan
selaras dengan acara pengajian yang sedang kita hadiri kali ini, saya ingin sekilas
mengajak kepada para hadirin semua untuk mengingat kembali sejarah turunnya Al-Qur’an
sebagai Kitab Suci Agama Islam.
Kitab Suci
Al-Qur’an merupakan wahyu Ilahi yang diturun untuk pertama kalinya pada tanggal
17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijriah, atau kira-kira hampir 15 abad yang lalu
kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril, di mana Surat yang
pertama kali turun adalah Surat Al-Alaq yang diawali dengan ayat berisi perintah
untuk membaca yaitu “Bacalah,
dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan !.”
Dari ayat tersebut kita bisa melihat bahwa
perintah membaca adalah awal dan inti dari sebuah proses pembelajaran.
Dengan membaca,
kita memperoleh pengetahuan yang luas dan membuka cakrawala akan kemahabesaran
Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta.
Perintah yang
terkandung dalam ayat yang pertama kali turun ini menunjukkan, bahwa membaca
merupakan aktivitas yang mendasari proses pembangunan masyarakat berpengetahuan,
yang sekaligus menjadi masyarakat berke-Tuhanan.
Aktivitas
membaca juga merupakan awal dari tumbuhnya kecerdasan intelektual, dan
merupakan aktivitas berfikir dan belajar yang lebih komprehensif.
Dan penyebutan
atas nama Tuhan, sebagai aktivitas berdzikir, merupakan bagian dari kecerdasan
spiritual, untuk selalu mengingat Allah SWT dalam segala dinamika kehidupan di
alam dunia ini.
Kewajiban
menuntut ilmu, khususnya ilmu agama, telah diperintahkan dalam agama kita, bahwa
menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslimin dan muslimat sejak dari
ayunan Ibu hingga sampai ke liang kubur”.
Di dalam
Al-Qur’an pun sudah tersirat dan tersurat sebuah dorongan dari Allah SWT kepada
umat manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, yang membawa
manfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan umat manusia serta lingkungan alam
semesta.
Dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kita dapat membangun kehidupan masyarakat yang lebih
maju dan sejahtera.
Dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kita dapat membangun masyarakat yang cerdas, berdaya
saing, dan berahlak mulia.
Sejarah pun telah
membuktikan, bahwa peradaban Islam sejatinya adalah peradaban ilmiah, yaitu
sebuah peradaban yang sarat dengan pemikiran intelektual, inovasi, teknologi,
serta pengabdian kemanusiaan dan kemasyarakatan.
Di masa yang
lalu, di zaman keemasan yakni pada abad-abad pertengahan, pemikiran Islam telah
menghasilkan karya ilmu pengetahuan yang tinggi dan berkembang hingga saat ini.
Berbagai
penemuan dan pengembangan di bidang Astronomi, Matematika, Kedokteran, dan Seni
Budaya adalah bagian dari karya intelektual kaum muslimin.
Oleh karena itu, sebagai bangsa dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia, sebagai bangsa yang mewarisi warisan intelektual dan peradaban dari Barat, Timur, dan Islam, sudah selayaknya umat Islam Indonesia tampil ke depan.
***) Widodo Anwari, S.Sos