Ada
tiga pelajaran penting yang bisa kita petik dari kegiatan Halal Bi
Halal yang sedang kita
hadiri saat ini adalah :
Pelajaran Pertama adalah
pembersihan diri dari segala bentuk kesalahan. Ibarat pemudik yang pulang ke
kampung halamannya setelah sekian tahun merantau ke negeri seberang. Dalam
perjalanan itu tidak sedikit ia isi dengan kesalahan, seperti lupa sholat,
lalai menunaikan janji setia kepada Allah, lupa berdzikir, bersikap angkuh atau
berlaku aniaya kepada diri sendiri.
Dan
pada hari nan fitri itu kita “mudik” kepada Allah. Kembali kepada-Nya dengan
membawa proposal berisi rintihan permohonan ampun atas salah dan dosa yang
telah kita perbuat. Halal bi Halal menggiring kita untuk kembali ke kampung
halaman yang sesungguhnya yaitu kembali kepada ampunan Allah yang sangat luas.
Itulah
makna hakiki dari kalimat Minal A`idhin wal Faizin yang
artinya “Semoga kita kembali kepada fitrah dan menang melawan hawa nafsu.”
Kembali kepada jati diri yang suci seperti bayi yang baru lahir ke muka bumi.
Bersih, bening dan penuh ketulusan.
Pelajaran kedua
dari Halal bi
Halal adalah
membersihkan hati dari rasa benci kepada sesama.
Dahulu
Nabi Muhammad SAW ketika tengah duduk-duduk dengan para sahabatnya, ada seorang
pria asing berjalan di hadapan mereka. Orang itu berjalan lalu pergi entah ke
mana. Setelah pria asing itu berlalu, Rasulullah berkata kepada para sahabat,
“Dialah ahli surga.” Kalimat itu beliau ucapkan sampai tiga kali.
Pria
itu tidak punya ilmu dan harta yang bisa disedekahkan. Dia hanya punya rasa
cinta kepada Allah, Rasulullah dan sesama manusia.
Dan
ternyata setiap malam menjelang tidur, dia selalu berusaha menguatkan rasa
cinta itu sekaligus berusaha menghilangkan rasa benci terhadap siapa saja.
Pelajaran
yang bisa kita petik dari kisah ini adalah terkadang karena persaingan bisnis
atau persaingan di tempat kerja terbersit rasa dengki, dendam dan iri hati.
Oleh
karena itu, pada kesempatan yang baik ini mari kita singkirkan penyakit-penyakit
pengotor hati itu dalam dengan momentum Halal bi Halal. Tidak ada lagi kedengkian. Kita
ganti dengan kelapangan jiwa. Kita obati kesombongan dengan kerendah-hatian.
Kita buang permusuhan dan kita isi dengan persaudaraan.
Kini
saatnya, setiap Muslim membumikan berkah-berkah kesalehan Ramadhan dengan menebar
rasa bahagia ke setiap orang, memupuknya, merawat dan menjaga agar mendapatkan
buah indahnya ikatan persaudaraan. ***Widodo Anwari, S.Sos