Khaul yang berarti peringatan, bertujuan untuk
mengenang dan mendoakan orang tua, sesepuh, alim ulama yang telah mendahului
kita, agar kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran bahwa semua makhluk hidup
pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT, akan ada kehidupan setelah
kematian, yaitu kampung akhirat yang kekal dan abadi.
Khaul juga memiliki makna yang dalam, agar kita
mengingat kembali ada 3 (tiga) amalan yang tidak terputus setelah wafat, yaitu
amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak yang shaleh.
Demikian halnya, semoga Almaghfiroh KHAUL SIMBAH KH. MISBACHUL MUNIR, SIMBAH KH.
AHMAD SHOLEH, SIMBAH KH. NAWAWI, SIMBAH KYAI YAKUP DAN SIMBAH KY KEDATI, DUSUN
CITRAN DESA NGEPANREJO, memperoleh pahala yang tiada terputus oleh sebab semasa hidupnya beliau
begitu gigih dalam berdakwah dan mengajarkan ilmu agama kepada para murid dan
santri-santrinya.
Ibarat tanaman, kini apa yang telah beliau tanam, telah berbuah lebat dan buah itupun telah menjadi bibit, yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi pohon-pohon sebagaimana induknya. Sungguh sebuah tanaman amal jariyah yang luar biasa indahnya.
Sejarah mencatat, bahwa bangsa Indonesia
tumbuh dan berkembang bersama para alim ulama dan santri jauh sebelum
kemerdekaan bangsa ini di raih. Peran alim ulama dan santri dalam berjuang
merebut kemerdekaan bangsa telah tertulis dengan tinta emas. Oleh karena itu,
saya mengajak kepada para santri dan alumni untuk melanjutkan perjuangan para
pendahulu bangsa dengan tetap berkiprah dan berpartisipasi dalam program-program
pembangunan bangsa.
Sumbangan pemikiran serta curahan waktu dan
tenaga sangat dibutuhkan oleh Negara ini, agar tetap berdaulat di bawah naungan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.***) Widodo Anwari Humas dan Protokol